hempas halus menggegar sang yang dimurka.
lewat senja kemarin
saat setiap satu pelepahnya dinyala hangus.
menembus mega awan kian mengelam.
waktu alpa dipuja ashiq.
dengan gempa.
dia jatuh bersama nista.
perlahan-lahan
timbunan puing keramat dibangun semula
dengan rupa hangat menyenang.
pada setiap jejaknya yang menelusur
dengan sayapnya yg seakan hidup
disujud.
bila gelap disangka mentari.
bangun kita bagai berjalan tidur.
menari tidur
teriak tidur.
dalam nyenyak tidur terdalam.
oh.
tunggu shj kiamat datang.
baihaqi
0630 omar mokhtar, burg syaimaa' ,

No comments:
Post a Comment